Selasa, 29 Desember 2009

Arti harfiah dari portofolio adalah sekumpulan surat-surat. Teori ini disebut sebagai teori portofolio yang mempelajari bagaimana investasi pada surat-surat berharga. Pada umumnya investor pada surat-surat berharga ( saham, obligasi dan sebagainya) memilih untuk memiliki berbagai jenis surat berharga sehingga mereka dikatakan membentuk portofolio. Teori portofolio ini didasarkan pada kenyataan bahwa umumnya para investor dalam surat-surat berharga ( yang disebut juga sebagai financial asset ), tidak menginvestasikan seluruh dana mereka pada satu jenis saham, tetapi membagi-bagikannya ke dalam berbagai jenis saham atau dengan kata lain mereka melakukan diversifikasi untuk mengurangi resiko yang ditanggung. Kalau suatu saham nilainya jatuh, sedangkan saham lain naik, maka kerugian dan keuntungan ini akan saling mengkompensir. Harga pasar suatu surat berharga mencerminkan penaksiran consensus pasar akan nilai surat berharga. Suatu pasar keuangan yang efisien terjadi apabila harga-harga surat berharga mencerminkan semua informasi yang tersedia di masyarakat, tentang ekonomi tentang pasar-pasar keuangan dan mengenai perusahaan tertentu tersebut. Harga pasar dari setiap surat berharga menyesuaikan diri dengan sangat cepat atas setiap informasi baru yang masuk ke pasar. Sebagai hasilnya harga surat-surat berharga akan berfluktuasi secara random terhadap nilai “intrinsic” mereka. Perubahan-perubahan harga karena adanya informasi baru, dikatakan akan mengikuti pola “random walk”.
Teori portofolio dan teori pasar modal sebelumnya hanya merupakan konsumsi kaum akademik, sedangkan manajer keuangan tidak memiliki minat atau tidak menyadari keberadaan teori tersebut. Namun situasi ini telah berubah seiring dengan bertambahnya sarjana yang memasuki profesi pengelolaan uang. Saat ini, manajer keuangan bersifat terbuka terhadap teori ini dan seringkali turut memberikan kontribusi pemikiran bagi teori tersebut.

Portofolio yang Efisien dan Optimal
Dalam pembentukan portofolio, investor berusaha memaksimalkan pengembalian yang diharapkan dari investasi dengan tingkat risiko tertentu yang dapat diterima. Portofolio yang dapat mencapai tujuan di atas disebut dengan portofolio yang efisien. Konsep pengembalian yang diharapkan dan risiko akan dijelaskan secara lebih khusus pada saat memasuki pembahasan tentang perkembangan teori portofolio.
Untuk membentuk portofolio yang efisien, perlu dibuat beberapa asumsi mengenai perilaku investor dalam membuat keputusan investasi. Asumsi yang wajar adalah investor cenderung menghindari risiko (risk averse). Investor penghindar risiko adalah investor yang jika dihadapkan pada dua investasi dengan pengembalian diharapkan yang sama dan risiko yang berbeda, maka ia akan memilih investasi dengan tingkat risiko yang lebih rendah. Jika investor memiliki beberapa pilihan portofolio yang efisien, maka portofolio yang paling optimal yang akan dipilihnya.



Aktiva Berisiko Versus Aktiva Bebas Risiko

Aktiva berisiko
, merupakan aktiva dimana pengembalian yang akan diterima di masa depan bersifat tidak pasti. Sebagai contoh, seorang investor membeli saham GM hari ini dan bermaksud untuk memegang saham tersebut hingga 1 tahun. Pada saat dilakukan pembelian saham, investor tidak mengetahui besar pengembalian yang akan diterimanya. Pengembalian yang diterima akan tergantung dari harga saham GM satu tahun mendatang dan pendapatan yang diperoleh investor selama 1 tahun. Maka, dapat disimpulkan saham merupakan aktiva berisiko. Bahkan sekuritas yang diterbitkan oleh pemerintah (obligasi) merupakan aktiva berisiko. Contohnya, obligasi yang jatuh tempo 30 tahun, investor tidak mengetahui berapa besar pengembalian yang diterimanya jika obligasi ini hanya disimpan selama 1 tahun. Hal ini terjadi karena perubahan suku bunga akan mempengaruhi pengembalian investasi pada obligasi tersebut selama satu tahun.

Aktiva bebas risiko, aktiva yang pengembalian masa depannya dapat diketahui dengan pasti. Aktiva bebas risiko umumnya merupakan kewajiban jangka pendek dari pemerintah. Sebagai contoh, jika investor membeli sekuritas pemerintah dengan jangka jatuh tempo 1 tahun dan berniat untuk menyimpan sekuritas tersebut hingga saat jatuh temponya, maka besar pengembalian satu tahun mendatang akan diketahui dengan pasti.

Mengukur Pengembalian Diharapkan dari Suatu Portofolio

Investor seringkali dihadapkan pada pilihan antara aktiva berisiko. Di sini akan dilihat cara pengukuran pengembalian yang diharapkan dari aktiva berisiko dan dari portofolio aktiva berisiko.
Pengembalian actual dari suatu portofolio aktiva sepanjang periode tertentu secara langsung dapat diperhitungkan sebagai berikut:



dimana:
Rp = tingkat pengembalian portofolio selama periode berjalan
Rg = tingkat pengembalian aktiva g selama periode berjalan
Wg = bobot aaktiva g pada portofolio (yaitu aktiva g sebagai bagian dari nilai pasar keseluruhan portofolio)
G = jumlah aktiva pada portofolio
Secara ringkas, Persamaan (1) dapat dinyatakan sebagai berikut:


....2

Persamaan (2) menunjukkan bahwa pengembalian atas portofolio dari aktiva G (Rp) sama dengan jumlah berat aktiva individual dalam portofolio dikalikan pengembaliannya bagi setiap aktiva g. Pengembalian portofolio Rp seringkali
disebut (pengembalian selama periode penyimpanan (ex post return). Sebagai contoh, berikut ini adalah portofolio yang terdiri dari tiga aktiva:



Nilai total pasar portofolio adalah $25 juta, maka:
R1 = 12% dan w1 = $6 juta/$25 juta = 0,24 atau 24%
R2 = 10% dan w2 = $8 juta/$25 juta = 0,32 atau 32%
R3 = 5% dan w3 = $11 juta/$25 juta = 0,44 atau 44%
Perhatikan bahwa jumlah dari bobot aktiva sama dengan 1.Apabila dimasukkan pada Persamaan (1) diperoleh:
Rp = 0,24 (12%) + 0,32 (10%) + 0,44 (5%) = 8,28%
Pengembalian Diharapkan dari Portofolio Aktiva Berisiko
Persamaan (1) menunjukkan cara perhitungan pengembalian actual dan portofolio selama periode waktu tertentu. Dalam pengelolaan portofolio, investor juga ingin mengetahui pengembalian yang diharapkan dari portofolio aktiva berisiko. Pengembalian yang diharapkan dari portofolio adalah rata-rata tertimbang dari pengembalian yang diharapkan dari setiap aktiva pada portofolio. Nilai yang diberikan kepada pengembalian yang diharapkan dari setiap aktiva merupakan persentase dari nilai pasar aktiva terhadap nilai pasar total portofolio, yaitu:

…..3

E(….) menunjukkan harapan, dan E(Rp) terkadang disebut pengembalian exante atau pengembalian diharapkan dari portofolio sepanjang periode waktu tertentu.
Pengembalian yang diharapkan dari aktiva berisiko dihitung sebagai berikut:
Harus diketahui distribusi probabilitas bagi tingkat pengembalian yang mungkin dapat yang dihasilkan. Distribusi probabilita merupakan fungsi yang menghubungkan peluang terjadinya suatu peristiwa dengan penghasilan yang mungkin dihasilkan bagi variabel acak.
Setelah distribusi probabilita diketahui, kemudian dicari nilai yang diharapkan dari variabel acak yang merupakan rata-rata tertimbang penghasilan yang mungkin, dimana bobot/timbangan merupakan probabilita yang berhubungan dengan penghasilan yang mungkin.
Nilai diharapkan dari pengembalian aktiva, seterusnya digunakan istilah pengembalian diharapkan. Secara matematis, pengembalian yang diharapkan dinyatakan sebagai berikut:

….4

Dimana:
rn = tingkat pengembalian ke-n yang mungkin bagi aktiva i.
pn = probabilita memperoleh tingkat pengembalian n bagi aktiva i.
h penghasilan yang mungkin bagi tingkat pengembalian.
Diasumsikan seseorang ingin melakukan investasi, saham XYZ, yang memiliki distribusi probabilita bagi tingkat pengembalian selama periode waktu tertentu, ditunjukkan Tabel 3-1. Dalam praktiknya, distribusi probabilita didasarkan pada pengembalian historis.
Tabel 1. Distribusi probabilita Tingkat Pengembalian Bagi Saham XYZ



Dimasukkan ke dalam Persamaan (4) akan diperoleh:
E(RXYZ) = 0,50 (15%) + 0,30 (10% + 0,13 (5%) + 0,05 (0%) + 0,02 (-5%) = 11%

Maka, 11% merupakan nilai atau rata-rata hitung (mean) yang diharapkan dari distribusi probabilita bagi tingkat pengembalian saham XYZ.

Mengukur Risiko Portofolio
Risiko merupakan kerugian yang dihadapi. Sehubungan dengan investasi,para investor menggunakan berbagai definisi untuk menjelaskan makna risiko.
Profesor Harry Markowitz mengubah pandangan kaum investor mengenai risiko dengan jalan memperkenalkan konsep risiko secara kuantitatif. Markowitz mendifinisikan risiko sebagai ukuran statistika yang disebut variance. Secara khusus, Markowitz mengkuantifisir sebagai varians pengembalian diharapkan aktiva.

Varians sebagai Alat Ukur Risiko

Varians dari variable acak adalah ukuran penyimpangan dari penghasilan yang mungkin di sekitar nilai yang diharapkan. Dalam hal pengembalian aktiva, varians adalah ukuran penyimpangan penghasilan yang mungkin bagi tingkat pengembalian di sekitar pengembalian yang diharapkan.
Persamaan bagi varians pengembalian yang diharapkan bagi aktiva i, yang dinyatakan sebagai (Ri), adalah:



Dengan menggunakan distribusi probabilita pengembalian bagi saham XYZ, perhitungan varians adalah sebagai berikut:
Var(RXYZ) = 0,50 (15%-11%)2 + 0,30 (10%-11%)2 + 0,13 (5%-11%)2 + 0,05 (0%-11%)2 + 0,02 (-5%-11%)2 = 24 %
Varians yang dikaitkan dengan distribusi pengembalian mengukur varians dimana distribusi dikelompokkan di sekitar mean atau pengembalian yang diharapkan. Markowitz berpendapat varians ini sama dengan ketidakpastian atau risiko suatu investasi. Jika aktiva tidak memiliki risiko, maka penyimpangan pengembalian diharapkan dari aktiva tersebut adalah nol (0).

Deviasi Standar. Karena varians dinyatakan dalam unit kuadrat, maka sering dilihat varians diubah menjadi deviasi standar atau akar kuadrat dari varians;


Diversifikasi Portofolio
Untuk menurunkan risiko portofolio perlu melakukan diversifikasi. Diversifikasi portofolio diartikan sebagai pembentuka portofolio sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi risiko portofolio tanpa pengorbanan pengembalian yang dihasilkan. Ini merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh investor. Beberapa investor melakukan diversifikasi portofolio dengan jalan memasukkan berbagai aktiva dari seluruh kelompok aktiva yang ada, seperti saham, obligasi, dan real estat.
Para investor yang menghususkan diri dalam satu kelompok aktiva misanya saham, juga menganggap perlu dilakukan diversifikasi portofolio. Yang dimaksud dengan diversifikasi portofolio dalam hal ini adalah seluruh dana yang ada seharusnya tidak diinvestasikan ke dalam bentuk saham satu perusahaan saja, tapi portofolio harus terdiri dari saham banyak perusahaan.

Diversifikasi Naif
Strategi diversifikasi naif dicapai pada saat investor melakukan investasi pada sejumlah saham yang berbeda atau kelompok aktiva yang berbeda dan berharap bahwa varians dari pengembalian diharapkan atas portofolio dapat diperkecil.
Sebagai contoh, aturan penginvestasian saham terkenal menyatakan bahwa portofolio seharusnya didiversifikasi pada berbagai industri yang berbeda. Diversifikasi naif berhubungan erat dengan praktik yang oleh Francis dan Alexander (1986) disebut dengan ‘penataan interior keuangan’. Menurut pendekatan ini, konsultan investasi berusaha merancang suatu portofolio yang sesuai dengan ‘kepribadian keuangan’ investor. Menurut Francis dan Alexander, asumsi pada penataan interior keuangan adalah bahwa jenis investor tertentu memiliki persyaratan investasi tertentu pula yang dapat dipenuhi dengan jalan merancang portofolio yang sesuai.

Diversifikasi Markowitz
“Janganlah menaruh semua telur ke daam satu keranjang”, sebab jika keranjang itu jatuh , maka semua telur yang ada dalam keranjang tersebut akan pecah.”
“Janganlah menginvestasikan semua dana yang kita miliki hanya pada satu aset saja , karena jika aset tersebut gagal, maka semua dana yang telah kita investasikan akan lenyap.”
Strategi diversifikasi Markowitz terutama berhubungan dengan tingkat kovarians antara pengembalian aktiva dalam portofolio. Kontribusi utama dari jenis diversifikasi ini adalah formulasi risiko aktiva dalam hal portofolio aktiva, bukan risiko aktiva secara sendiri-sendiri. Diversifikasi Markowitz berusaha menggabungkan aktiva-aktiva dalam portofolio dengan pengembalian yang memiliki korelasi positif kurang dari sempurna, dengan tujuan mengurangi risiko portofolio (varians) tanpa mengurangi pengembalian Diversifikasi Markowitz berbeda dari diversifikasi naif dan lebih efektif karena diversifikasi ini berusaha mempertahankan pengembalian yang ada, dan mengurangi risiko melalui analisis kovarians antara pengembalian aktiva.
Diversifikasi Markowitz dan pentingnya korelasi aktiva dapat diilustrasikan melalui contoh portofolio dua aktiva. Pertama, akan ditunjukkan hubungan umum antara risiko yang diharapkan dari portofolio dua aktiva dan korelasi pengembalian dari aktiva dalam portofolio. Selanjtnya akan dilihat pengaruh penggabungan aktiva dengan korelasi yang berbeda terhadap risiko portofolio.
Next
This is the most recent post.
Previous
This is the last post.

0 comments:

Poskan Komentar